Jepang Eksekusi Mati 6 Anggota Sekte Serangan Gas Sarin

Jepang kembali mengeksekusi mati enam anggota sekte yang berada di balik serangan gas sarin mematikan di kereta bawah tanah di Tokyo pada 1995. Beberapa pekan lalu tujuh anggota lainnya yang bertanggung jawab atas serangan itu, termasuk pemimpin Shoko Asahara, juga dihukum mati. “Saya memerintahkan eksekusi berdasarkan pertimbangan yang sangat hati-hati,” ujar Menteri Kehakiman Yoko Kamikawa, kemarin.

Menteri Yoko mengatakan serangan gas sarin pada 1995 adalah kejahatan ekstrem yang tidak boleh terjadi lagi. Ketakutan tidak hanya bagi orang-orang di Jepang, tapi juga dunia. “Rasa sakit dan penderitaan orang-orang yang terbunuh dan keluarga mereka serta orang-orang yang bertahan hidup dengan cacat adalah hal yang tidak dapat dibayangkan.”

Insiden gas sarin terjadi pada 20 Maret 1995. Pada jam sibuk di kereta bawah tanah, anggota kelompok Aum Shinrikyo melepaskan gas sarin. Racun itu menyerang korban dalam hitungan detik, membuat sebagian buta dan lumpuh. Serangan itu menewaskan 13 orang dan melukai sedikitnya 5.800 orang, beberapa di antaranya cacat permanen.

Kelompok Aum Shinrikyo, atau Aum Supreme Truth, memadukan meditasi Buddha dan Hindu dengan ajaran apokaliptik. Mereka melakukan serangkaian kejahatan, termasuk serangan gas sarin secara simultan. Sarin, gas saraf, pada awalnya dikembangkan oleh Nazi. Beberapa bulan kemudian, para anggota sekte mencoba melepaskan hidrogen sianida di berbagai stasiun, tapi upaya itu bisa digagalkan.

Media televisiNHKmelaporkan, keenam orang yang dihukum mati kemarin, termasuk seorang perekrut kunci Aum Shinrikyo dan anggota sekte yang melepaskan gas saraf di gerbong kereta. Total 13 anggota aliran sesat itu sudah dihukum mati. Chizuo Matsumoto, mantan pemimpin dengan nama samaran Shoko Asahara, dihukum gantung pada 6 Juli lalu. Aum Shinrikyo ditetapkan sebagai organisasi teroris di banyak negara lain.